Sabtu, 10 Maret 2012




Sukreni Gadis Bali
Novel A.A Pandji Tisna 1908-1976

            Novel yang bersuasana Bali lokal ini bertema hukum karma atau hukum pembalasan bagi setiap perbuatan manusia yang melakukan kejahatan terhadap orang lain, entah kapan dan bagaimana melakukan kejahatan pasti akan menerima balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sepantasnya kepercayaan itu dihayati setiap pribadi agar tercegah kemungkinan berbuat jahat. Kisah di jalin dengan tokoh Men Negara, I Negara, Ni Negeri, I Gde Swamba, I Gusti Made Tusan, Luh Sukreni, dan  I Gustam.
            Pada mulanya Men Negara meninggalkan kampungnya yang ada di Karangasem karena suatu konflik dengan suaminya, kemudian dia menetap di Buleleng dan berhasil membuka warung makan sendiri. Usaha warung makanya sangat maju karena dia mempunyai anak gadis yang sangat cantik ( Ni Negeri ) yang pandai memikat perhatian banyak orang, termasuk tokoh yang terpanadang I Gde Swamba dan mantra polisi I Gusti Made Tusan. Kemudian muncullah Luh Sukreni yang mencari I Gde Swamba untuk urusan sengketa harta warisan.  Kehadiaran Luh Sukreni di warung Men Negara menimbulkan rasa sirik dan niat buruk di hati Men Negara dan Ni Negeri.
            Pada suatu malam Luh Sukreni di tawarkan sama Men Negara untuk bermalam di warungnya sambil menunggu kedatangan I Gde Swamba. Akan tetapi, kesempatan itu disediakan unuk I Gusti Made Tusan untuk meniduri Luh Sukreni. Esoknya Luh Sukreni pergi jauh-jauh dan akhirnya Luh Sukreni melahiirkan seorang anak lelaki dia bernama  I Gustam. I Gustam tumbuh sangat  pesat dan menjadi perampok ulung yang banyak di segani kawan dan lawan.
            Pada suatu saat I Gustam mempunyai rencana untuk merampok ke warung Men Negara. Tetapi rencananya udah kecium sama polisi dan akhirnya gagal. Rencana tersebut mendapat perlawanan sama polisi di bawah pimpinan I Gusti Made Tusam. Dalam perkelahian antara perampok dan polisi. I Gusti Made Tusam baru menyadari kalau yangdi lwanya itu anaknya sendiri yang di lahirkan sama Luh Sukreni. Keduanya berkelahi mati-matian dan akhirnya ayah dan anak itu pun sama-sama tersungkur dan mati.
            Dari rangkaian yang di rencanakan Men Negara dan anak gadisnya  berbuat jahat terhadap Luh Sukreni yang ternyata anaknya sendiri. I Gusti Made Tusam tersungkur mati di tanganya anaknya sendiri dan sedangkan I Gustam pun pada akhirnya terkapar karena telah berbuat banyak kejahatan.
            Bawasnya bagi siapa yang melakukan kejahatan kelak atau kapan akan mendapatkan balasanya. Bagaimanapun, kisah klasik semacam ini masih dan justru selalu di relevan dihayati masyarakat. Sekiranya filsafat itu disadari banyak orang, akan  jaranglah terjadi kejahtan. Jika benar demikian. Maka warna kehidupan bangsadan Negara pun akan tampak indah dan terasa aman  dan nyaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar