Sukreni
Gadis Bali
Novel A.A Pandji Tisna 1908-1976
Novel A.A Pandji Tisna 1908-1976
Novel
yang bersuasana Bali lokal ini bertema hukum karma atau hukum pembalasan bagi
setiap perbuatan manusia yang melakukan kejahatan terhadap orang lain, entah
kapan dan bagaimana melakukan kejahatan pasti akan menerima balasan yang
setimpal dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sepantasnya kepercayaan itu dihayati setiap
pribadi agar tercegah kemungkinan berbuat jahat. Kisah di jalin dengan tokoh
Men Negara, I Negara, Ni Negeri, I Gde Swamba, I Gusti Made Tusan, Luh Sukreni,
dan I Gustam.
Pada
mulanya Men Negara meninggalkan kampungnya yang ada di Karangasem karena suatu
konflik dengan suaminya, kemudian dia menetap di Buleleng dan berhasil membuka
warung makan sendiri. Usaha warung makanya sangat maju karena dia mempunyai
anak gadis yang sangat cantik ( Ni Negeri ) yang pandai memikat perhatian
banyak orang, termasuk tokoh yang terpanadang I Gde Swamba dan mantra polisi I
Gusti Made Tusan. Kemudian muncullah Luh Sukreni yang mencari I Gde Swamba
untuk urusan sengketa harta warisan.
Kehadiaran Luh Sukreni di warung Men Negara menimbulkan rasa sirik dan
niat buruk di hati Men Negara dan Ni Negeri.
Pada
suatu malam Luh Sukreni di tawarkan sama Men Negara untuk bermalam di warungnya
sambil menunggu kedatangan I Gde Swamba. Akan tetapi, kesempatan itu disediakan
unuk I Gusti Made Tusan untuk meniduri Luh Sukreni. Esoknya Luh Sukreni pergi
jauh-jauh dan akhirnya Luh Sukreni melahiirkan seorang anak lelaki dia bernama I Gustam. I Gustam tumbuh sangat pesat dan menjadi perampok ulung yang banyak
di segani kawan dan lawan.
Pada
suatu saat I Gustam mempunyai rencana untuk merampok ke warung Men Negara.
Tetapi rencananya udah kecium sama polisi dan akhirnya gagal. Rencana tersebut
mendapat perlawanan sama polisi di bawah pimpinan I Gusti Made Tusam. Dalam
perkelahian antara perampok dan polisi. I Gusti Made Tusam baru menyadari kalau
yangdi lwanya itu anaknya sendiri yang di lahirkan sama Luh Sukreni. Keduanya
berkelahi mati-matian dan akhirnya ayah dan anak itu pun sama-sama tersungkur
dan mati.
Dari
rangkaian yang di rencanakan Men Negara dan anak gadisnya berbuat jahat terhadap Luh Sukreni yang
ternyata anaknya sendiri. I Gusti Made Tusam tersungkur mati di tanganya
anaknya sendiri dan sedangkan I Gustam pun pada akhirnya terkapar karena telah
berbuat banyak kejahatan.
Bawasnya
bagi siapa yang melakukan kejahatan kelak atau kapan akan mendapatkan
balasanya. Bagaimanapun, kisah klasik semacam ini masih dan justru selalu di
relevan dihayati masyarakat. Sekiranya filsafat itu disadari banyak orang,
akan jaranglah terjadi kejahtan. Jika
benar demikian. Maka warna kehidupan bangsadan Negara pun akan tampak indah dan
terasa aman dan nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar