Lobi AFC, PSSI Incar Tuan Rumah Kualifikasi Piala Asia U-22
Rabu, 14 Maret 2012 19:02 wib
Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.
JAKARTA - PSSI akan usahakan Indonesia sebagai tuan rumah kualifikasi Grup E Piala Asia U-22 pada 23 Juni - 3 Juli mendatang. Federasi sepak bola tertinggi Indonesia tersebut akan melobi AFC dalam waktu dekat, agar menang dalam bidding penentuan tuan rumah.
Indonesia sendiri tergabung dalam grup berat bersama Australia, Jepang, Makau, Singapura, dan Timor Leste di Grup E. Usaha PSSI untuk mengupayakan hal tersebut, demi menarik minat atas persepakbolaan Indonesia dan memberi bukti jika sepak bola Indonesia bisa dipercaya sebagai penyelenggara event tingkat Asia.
"Kami akan berbicara kepada mereka (AFC), agar bisa mempertimbangkan peluang Indonesia menjadi tuan rumah kualifikasi Grup E Piala Asia U-22. Kami akan berusaha beri bukti, jika persepakbolaan Indonesia tidak selamanya diliputi masalah," ungkap Sekertaris Jendreal (Sekjen) PSSI, Tri Goestoro.
Pria yang juga mantan manager Bandung Raya ini pun menegaskan, jika Indonesia telah mencukupi persyaratan sebagai tuan rumah. Namun Tri pun sadar, jika usaha Indonesia dalam memenangi bidding tidak akan semudah membalikan telapak tangan. Karena Australia dan Jepang, dikabarkan juga berniat menjadi tuan rumah kualifikasi Grup E Piala Asia U-22.
Tri juga memaparkan, jika secara kualitas lapangan di dua negara tersebut tentu akan jadi tujuan utama AFC dalam menentukan siapa tuan rumah kualifikasi Grup E Piala Asia U-22. Walaupun seperti itu, PSSI berharap jika Federasi tertinggi sepak bola Asia tersebut, bisa mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar kualitas stadion di masing-masing negara.
"Sampai sekarang infonya kami belum tahu. Untuk itu kami masih akan berusaha mencari info lebih jelas. Tapi besar kemungkinan pengumuman dilakukan dua bulan menjelang event, paling cepat sekitar akhir bulan Maret," papar Tri.
Sementara untuk persiapan tim sendiri, kabarnya tim yang akan diikutsertakan dalam kualifikasi Grup E Piala Asia U-22 adalah pemain-pemain yang terbangung dalam tim nasional (timnas) U-21 saat mengikuti Turnamen Sultan Hassanal Bolkiah Trophy yang lalu. Ke-18 pemain yang menempati posisi runner up dalam ajang tersebut, akan kembali diseleksi untuk menemukan skuad terbaik nantinya.
"Mereka yang tampil di Brunei (Turnamen Sultan Hassanal Bolkiah Trophy) akan diseleksi lagi. Mungkin akan bermaterikan 50 persen pemain timnas U-21. Dan untuk pelatih, Widodo C Putro, saya rasa paling tepat menjadi pelatih," terang penanggung jawan timnas Indonesia, Bernhard Limbong.
(Decky Irawan Jasri/Koran SI/fit)
http://bola.okezone.com/read/2012/03/14/51/593286/lobi-afc-pssi-incar-tuan-rumah-kualifikasi-piala-asia-u-22?utm_source=twitterfeed&utm_medium=facebook
Rabu, 14 Maret 2012
Selasa, 13 Maret 2012
klsemen sementra divisi utama liga Indonesia
klasemen Sementara Divisi Utama Liga Indonesia 2011/2012
Grup 1 NO KLUB P W D L GD PTS
1. Persebaya Surabaya LI 9 7 1 1 16-5 22
2. PSIM Jogja 9 6 3 0 15-6 21
3. Persita Tangerang 10 6 3 1 12-5 21
4. Persip Pekalongan 10 5 2 3 17-10 17
5. Persitara 10 4 2 4 17-14 14
6. Persiku Kudus 9 2 6 1 12-10 12 ...
7. PS Bengkulu LI 10 3 3 4 6-10 12
8. Persih Tembilhan RIAU 10 2 3 5 9-11 9
9. Persis Solo 9 2 3 7 10-17 9
10. Persitema 10 2 0 8 7-19 6
11. PSGL Gayo 10 0 2 8 9-23 2
Grup 1 NO KLUB P W D L GD PTS
1. Persebaya Surabaya LI 9 7 1 1 16-5 22
2. PSIM Jogja 9 6 3 0 15-6 21
3. Persita Tangerang 10 6 3 1 12-5 21
4. Persip Pekalongan 10 5 2 3 17-10 17
5. Persitara 10 4 2 4 17-14 14
6. Persiku Kudus 9 2 6 1 12-10 12 ...
7. PS Bengkulu LI 10 3 3 4 6-10 12
8. Persih Tembilhan RIAU 10 2 3 5 9-11 9
9. Persis Solo 9 2 3 7 10-17 9
10. Persitema 10 2 0 8 7-19 6
11. PSGL Gayo 10 0 2 8 9-23 2
Minggu, 11 Maret 2012
Karena
'Nyabu, Kapolsek Cibarusa Ditangkap Propam
Republika - 1 jam 24 menit lalu
REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA -- Jajaran polisi dari Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda
Metro Jaya meringkus Kapolsek Cibarusa, AKP HBS, yang tertangkap tangan tengah
menikmati narkoba jenis sabu, Jumat (9/3) pukul 21.30 WIB. Kabid Humas Polda
Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, menjelaskan, AKP HBS tersebut diringkus
jajaran kepolisian saat mengonsumsi sabu seorang diri di rumah dinasnya.
Dari penangkapan itu,
tutur Rikwanto, Ahad (11/3), polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti yang
ditemukan di sekitar tempat AKP HBS menikmati barang haram tersebut. Rikwanto
menyebutkan, barang bukti yang berhasil disita adalah dua bungkus plastik kecil
berisi bubuk sabu dengan berat masing-masing 0,57 dan 0,3 gram, satu buah korek
gas, dua buah bong penghisap sabu satu botol spirtus, dan dua buah sendok yang
terbuat dari sedotan.
Barang bukti
tersebut, ungkap Rikwanto, cukup kuat untuk menjadikan AKP HBS sebagai
tersangka kasus penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Saat ini, tutur Rikwanto,
Kapolsek Cibarusa itu menjalani pemeriksaan dan ditahan di Direktorat Reserse
Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Atas perilakunya itu,
tutur Rikwanto, Kapolsek Cibarusa itu dijerat Pasal 114 ayat 1 Subsider Pasal
112 ayat 1 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Rikwanto
menegaskan, dengan jeratan pasal tersebut, AKP HBS diancam pidana kurungan
maksimal selama 15 tahun
Sabtu, 10 Maret 2012
Sukreni
Gadis Bali
Novel A.A Pandji Tisna 1908-1976
Novel A.A Pandji Tisna 1908-1976
Novel
yang bersuasana Bali lokal ini bertema hukum karma atau hukum pembalasan bagi
setiap perbuatan manusia yang melakukan kejahatan terhadap orang lain, entah
kapan dan bagaimana melakukan kejahatan pasti akan menerima balasan yang
setimpal dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sepantasnya kepercayaan itu dihayati setiap
pribadi agar tercegah kemungkinan berbuat jahat. Kisah di jalin dengan tokoh
Men Negara, I Negara, Ni Negeri, I Gde Swamba, I Gusti Made Tusan, Luh Sukreni,
dan I Gustam.
Pada
mulanya Men Negara meninggalkan kampungnya yang ada di Karangasem karena suatu
konflik dengan suaminya, kemudian dia menetap di Buleleng dan berhasil membuka
warung makan sendiri. Usaha warung makanya sangat maju karena dia mempunyai
anak gadis yang sangat cantik ( Ni Negeri ) yang pandai memikat perhatian
banyak orang, termasuk tokoh yang terpanadang I Gde Swamba dan mantra polisi I
Gusti Made Tusan. Kemudian muncullah Luh Sukreni yang mencari I Gde Swamba
untuk urusan sengketa harta warisan.
Kehadiaran Luh Sukreni di warung Men Negara menimbulkan rasa sirik dan
niat buruk di hati Men Negara dan Ni Negeri.
Pada
suatu malam Luh Sukreni di tawarkan sama Men Negara untuk bermalam di warungnya
sambil menunggu kedatangan I Gde Swamba. Akan tetapi, kesempatan itu disediakan
unuk I Gusti Made Tusan untuk meniduri Luh Sukreni. Esoknya Luh Sukreni pergi
jauh-jauh dan akhirnya Luh Sukreni melahiirkan seorang anak lelaki dia bernama I Gustam. I Gustam tumbuh sangat pesat dan menjadi perampok ulung yang banyak
di segani kawan dan lawan.
Pada
suatu saat I Gustam mempunyai rencana untuk merampok ke warung Men Negara.
Tetapi rencananya udah kecium sama polisi dan akhirnya gagal. Rencana tersebut
mendapat perlawanan sama polisi di bawah pimpinan I Gusti Made Tusam. Dalam
perkelahian antara perampok dan polisi. I Gusti Made Tusam baru menyadari kalau
yangdi lwanya itu anaknya sendiri yang di lahirkan sama Luh Sukreni. Keduanya
berkelahi mati-matian dan akhirnya ayah dan anak itu pun sama-sama tersungkur
dan mati.
Dari
rangkaian yang di rencanakan Men Negara dan anak gadisnya berbuat jahat terhadap Luh Sukreni yang
ternyata anaknya sendiri. I Gusti Made Tusam tersungkur mati di tanganya
anaknya sendiri dan sedangkan I Gustam pun pada akhirnya terkapar karena telah
berbuat banyak kejahatan.
Bawasnya
bagi siapa yang melakukan kejahatan kelak atau kapan akan mendapatkan
balasanya. Bagaimanapun, kisah klasik semacam ini masih dan justru selalu di
relevan dihayati masyarakat. Sekiranya filsafat itu disadari banyak orang,
akan jaranglah terjadi kejahtan. Jika
benar demikian. Maka warna kehidupan bangsadan Negara pun akan tampak indah dan
terasa aman dan nyaman.
Kamis, 08 Maret 2012
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –
Keberhasilan timnas U-21 lolos ke final Hassanal Bolkiah Trophy, mendapat apresiasi dari Menpora Andi Mallarangeng dan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husein. Kini keduanya sudah berada di Brunei untuk menyaksikan laga final Indonesia melawan Brunei Darussalam di Hassanal Bolkiah Stadium, Jumat (9/3/2012) besok.
"Ketua Umum (PSSI) ada, Menpora juga ada," ujar manager Timnas U-21, Hasrul Azwar, melalui sambungan telepon, Kamis (8/3/2012).
Kedatangan Andi Mallarangeng dan Djohar Arifin, kata Hasrul, merupakan bentuk dukungan atas prestasi positif yang ditorehkan anak asuh Widodo C Putro tersebut.
Selain Menpora dan Ketua Umum PSSI, ikut juga Koordinator timnas, Bob Hippy, dan Direktur Tehnik Timnas, Wim Rijsbergen, yang juga terbang ke Brunei. Kehadiran mereka, kata Hasrul, tentu akan memberikan dampak positif bagi pemain.
Hasrul juga mengatakan, para pemain saat ini dalam keadaan fit 100 persen, tidak ada yang bermasalah dengan kondisi fisik. "Kami optimis menang," tutupnya.
sebarrkan-perdamaian-lewat-reggae
Duta reggae Indonesia, Ras Muhammad puaskan penggemar musik reggae kota
Semarang, Kamis dini hari (16/2). Dia bersama band pengiringnya
membabat habis sembilan lagu dari keempat albumnya yang melangsungkan
mini konser di Liquid Cafe Semarang.
Dalam konser yang bertajuk “One Love” itu, Muhammad membuka dengan tembang “Sound BWOY” yang di-medley dengan “Kenapa Mesti Dipikirkan”. Hal tersebut pun disambut oleh penonton yang langsung merangsek dan bergoyang regge di lantai dansa.
Ras Muhammad memilih musik reggae ini sebab, dalam musik yang ditenarkan oleh Bob Marley itu menyimpan segudang misi mulia, yakni perdamaian dan cinta. Menurutnya jiwa Reggae adalah hembusan nafas perdamaian dan persatuan, kesetaraan umat manusia. Reggae adalah perjuangan dan juga bentuk ungkapan jeritan kaum terpinggirkan terhadap ketimpangan sosial dan ketidak adilan.
Tak hanya melangsungkan konser, kedatangan penyanyi yang telah lama tinggal di New York ini merupakan dalam promo album keempatnya yang telah dirilis pada awal Februari lalu. Dalam album yang bertitle “Berjaya” merupakan sebuah hasil kolaborasi Ras Muhammad dengan Daddy T.
Tidak tanggung-tanggung, dalam album yang berisi 18 lagu ini, Ras Muhammad pun berkolaborasi dengan beberapa musisi indie, yakni Endah & Resha, Mali, Antonius Vincent, dan Dennis Brown.
Ras Muhammad dengan rambut gimbal hingga kaki itu tampil enerjik, terlebih lagi saat membesut satu lagu dari album terbarunya, yakni tembang “Berjaya”. Berlompat, berjingkrak dan bergoyang, dia pun seakan membius penikmat musik reggae yang hadir malam itu. Sebagai penutup konser tersebut, dia pun menyanyikan tembang milik Bob Marley yakni “Could You Be Love”.
Reporter & Kameraman: Apit Yulianto
Dubber: Diantika PW
Editor Video: Arief
http://www.suaramerdeka.tv/view/video/31521/sebarkan-perdamaian-lewat-reggae
Dalam konser yang bertajuk “One Love” itu, Muhammad membuka dengan tembang “Sound BWOY” yang di-medley dengan “Kenapa Mesti Dipikirkan”. Hal tersebut pun disambut oleh penonton yang langsung merangsek dan bergoyang regge di lantai dansa.
Ras Muhammad memilih musik reggae ini sebab, dalam musik yang ditenarkan oleh Bob Marley itu menyimpan segudang misi mulia, yakni perdamaian dan cinta. Menurutnya jiwa Reggae adalah hembusan nafas perdamaian dan persatuan, kesetaraan umat manusia. Reggae adalah perjuangan dan juga bentuk ungkapan jeritan kaum terpinggirkan terhadap ketimpangan sosial dan ketidak adilan.
Tak hanya melangsungkan konser, kedatangan penyanyi yang telah lama tinggal di New York ini merupakan dalam promo album keempatnya yang telah dirilis pada awal Februari lalu. Dalam album yang bertitle “Berjaya” merupakan sebuah hasil kolaborasi Ras Muhammad dengan Daddy T.
Tidak tanggung-tanggung, dalam album yang berisi 18 lagu ini, Ras Muhammad pun berkolaborasi dengan beberapa musisi indie, yakni Endah & Resha, Mali, Antonius Vincent, dan Dennis Brown.
Ras Muhammad dengan rambut gimbal hingga kaki itu tampil enerjik, terlebih lagi saat membesut satu lagu dari album terbarunya, yakni tembang “Berjaya”. Berlompat, berjingkrak dan bergoyang, dia pun seakan membius penikmat musik reggae yang hadir malam itu. Sebagai penutup konser tersebut, dia pun menyanyikan tembang milik Bob Marley yakni “Could You Be Love”.
Reporter & Kameraman: Apit Yulianto
Dubber: Diantika PW
Editor Video: Arief
http://www.suaramerdeka.tv/view/video/31521/sebarkan-perdamaian-lewat-reggae
Senin, 05 Maret 2012
Asal Usul Nama Kota Pekalongan

Pada Tanggal 1 April kemarin Kota Pekalongan merayakan hari jadinya yang ke-105. Pada hari itu Kota Pekalongan bertransformasi dari ”sekadar” Kota Batik menjadi The World’s City of Batik. Sebagai kota yang memiliki banyak pengrajin batik, nama kota ini tidak sementereng Yogyakarta ataupun Solo. Pekalongan?

Kota Pekalongan adalah
kota yang terletak di utara Pulau Jawa, berdekatan dengan kota
Pemalang, Tegal dan Semarang. Kota ini memang kota yang tidak terlalu
besar sehingga banyak orang sulit untuk mengetahui dimana tempatnya.
Kota Pekalongan berada
di propinsi Jawa Tengah yang beribukotakan Semarang. Sebagai kota yang
berada di Propinsi Jawa Tengah bisa dipastikan penduduknya menggunakan
bahasa Jawa sebagai penghubung komunikasinya sehari-hari. Bahasa Jawa
logat Pekalongan agak sedikit berbeda dengan bahasa Jawa lain seperti Jogja atau Solo yang cenderung lebih halus.
Pekalongan, sebuah nama yang unik. Bagaimana asal usul nama kota ini? Nama Pekalongan berasal dari nama Topo Ngalongnya Joko Bau (Bau Rekso) putra Kyai Cempaluk yang dikenal sebagai pahlawan daerah Pekalongan. Di kemudian hari ia menjadi pahlawan kerajaan Mataram, yang konon ceritanya berasal dari Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Suatu ketika, ia
disuruh oleh pamannya Ki Cempaluk untuk mengabdi kepada Sultan Agung,
raja Mataram. Joko Bau mendapat tugas untuk memboyong putri Ratansari
dari Kalisalak Batang ke istana, akan tetapi Jaka Bau jatuh cinta pada
putri tesebut.
Sebagai hukumannya
Jaka Bau diperintah untuk mengamankan daerah pesisir yang terus
diserang oleh bajak laut cina. Ia kemudian bersemedi di hutan gambiran,
setelah itu Joko bau berganti nama menjadi Bau Rekso dan mendapat
perintah dari Sultan Agung untuk mempersiapkan pasukan dan membuat
perahu untuk membentuk armada yang kemudian melaksanakan serangan
terhadap kompeni yang ada di Batavia ( 1628 dan 1629). Setelah mengalami
kegagalan Bau Rekso memutuskan untuk kembali dan bertopo ngalong (bergelantung seperti kelelawar) di hutan gambiran. Di
dalam tapanya tersebut tak ada satupun yang bisa mengganggunya
termasuk Raden Nganten Dewi Lanjar (Ratu Segoro Lor) dan prajurit
silumannya. Pada akhirnya, karena kekuatan goibnya yang luar biasa maka
Dewi Lanjar pun bertekuk lutut dan akhirnya Dewi Lanjar dipersunting
Joko Bau.
Satu-satunya yang bisa mengganggu topo ngalongnya Joko Bau adalah Tan Kwie Djan yang mendapat tugas dari Mataram, kemudian Tan Kwie Djan dan Joko Bau sowan ke Mataram untuk menerima tugas lebih lanjut. Dari asal topo ngalong inilah kemudian timbul nama Pekalongan. Munculnya nama Pekalongan
menurut versi ini seputar abad XVII pada era Sultan Agung dan dalam
sejarah Bau Rekso dinyatakan gugur pada tanggal 21 September 1628 di
Batavia dalam peperangan melawan VOC. Tempat topo ngalongnya Joko Bau tersebut dipercayai tempatnya berbeda-beda antara lain di Kesesi, Wiradesa, Ulujami, Comal, Alun-alun Pekalongan dan Slamaran.
Berbagai Asal Kata “Pekalongan”
Nama Pekalongan semula dari daerah Wonocolo, Kota Surabaya, Jawa Timur. Sejak jaman Majapahit nama Pekalongan sudah ada di daerah tersebut dan orang-orang di tempat itu pun banyak yang pindah ke lain tempat dan kemudian nama Pekalongan digunakan untuk nama sebuah kecamatan di kota Netro Lampung.
Kata Pekalongan, asal kata pek dan along. Kata pek artinya teratas, pak de (si wo), luru (mencari, apek) sedang kata along yang artinya halong dalam bahasa sehari-hari nelayan yang berarti dapat banyak. Kemudian kata Pek-Along artinya mencari ikan di laut dapat hasil. Dari Pek Halong kemudian menjadi A-PEK-HALONG-AN (Pekalongan). Okeh masyarakat Pekalongan sendiri kata Pekalongan dikromokan menjadi PENGANGSALAN (angsal = dapat). Kemudian dijadikan lambang Kota Pekalongan yang telah ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Besar Pekalongan
tertanggal 29 Januari 1957 dan diperkuat dengan Tambahan Lembaran
Daerah Swatantra Tingkat 1 Jawa Tengah tanggal 15 Desember 1958 seri B
Nomer 11 kemudian disahkan oleh Mentri Dalam Negeri dengan Keputusanya
Nomer: Des./9/52/20 tanggal 4 Desember 1958 serta mendapatkan
persetujuan Pengusaha Perang Daerah Tertorium 4 dengan surat
Keputusannya, Nomer : KPTSPPD/ 00351/11/1958 tanggal 18 November 1958.
Kata Pekalongan, asal kata pek dan kalong. Kata kalong dalam bahasa Jawa dianggap berasal dari kata dasar elong artinya mengurangi, dan dalam bentuk pasif kalong yang berarti berkurang. Sementara kata pek atau amek, seperti yang tercermin dalam ungkapan kata amek iwak (menangkap ikan), diduga berkaitan dengan bahasa nelayan lokal. Adapun kata kalong bisa
berarti pula sejenis satwa kelelawar besar yang secara simbolis
diartikan sebagai kelompok rakyat kecil atau golongan orang tertentu
yang suka keluar (untuk bekerja) dari rumah pada malam hari (nelayan).
Lambang Kota Praja Pekalongan tempo dulu yang disahkan pemerintah Hindia Belanda dengan “Keputusan Pemerintah“ (Gouvernements Besluit) Tahun 1931 Nomer 40 dan menurut keterangan Dirk Ruhl Jr dalam nama ”Pekalongan” berasal dari perkataan “along”,
artinya banyak atau berlimpah-limpah, lancar, beruntung, berkaitan
dengan penangkapan ikan (hasil laut) dengan menggunakan pukat tarik.
Dengan demikian sesuai dengan motto yang tertulis dibawah perisai
lambang Kota Praja Pekalongan (jaman doeloe) berarti : “pek” (pa)-along–an” yakni tempat ditepi pantai untuk menangkap ikan dengan lancar dengan menggunakan pukat tarik (jala).
Menurut
Kyai Raden Masrur Hasan, keturunan Sunan Sendang yaitu R. Nur Rochmad
di Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Pekalongan berasal
dari istilah para santri kalong karena tidak bermukim di pesantren di
bawah asuhan R. Joko Cilik yang akhirnya juga disebut sebagai mbah
Mesjid
Dari asal kerajaan bernama “Pou-Kia-Loung” kemudian menjadi kata Pekalongan dan
menurut naskah kuno Sunda dari akhir abad ke 16, koleksi perpustakaan
“Bodlain” di Inggris. Di dalam naskah tersebut menceritakakan
perjalanan “Bujangga Manik” orang pertama terpelajar dari Sunda,
mengunjungi beberapa daerah di Pulau Jawa, diantaranya beberapa tempat
di kawasan Brebes, Pemalang, Batang, dan Pekalongan. Kendati tidak singgah di Pekalongan namun dalam penuturan perjalanannya di empat daerah ini Sang Bujangga tidak lupa menyebut nama Pekalongan. Penyebutan nama Pekalongan dalam naskah Bujangga Manik tersebut dapat dipandang penyebutan nama Pekalongan paling tua dalam naskah pribumi.
Nama Kota Pekalongan ternyata
juga disebut dalam sumber sejarah kuno asal Tiongkok pada dinasti
Ming. Sumber ini menuturkan bahwa pada tahun ke tujuh masa pemerintahan
“Kaisar- Siouenteh” (tahun masehi 1433) orang Jawa telah datang
mempersembahkan upeti dan memberikan sebuah keterangan pertama jaman
“Youen-Khang dari masa pemerintahan Kaisar Siouen-ti” dari dinasti Han.
Di negeri mereka terapat tiga jenis penduduk. Pertama, orang-orang
Tionghoa, bertempat tinggal untuk sementara waktu, pakaian dan makanan
mereka bersih dan sehat. Kedua, para pedagang dari negeri-negeri lain
yang telah lama menetap, mereka ini juga sopan santun dan bersih.
Ketiga, adalah penduduk pribumi, yang yang dituturkan sangat kotor dan
makan ular, semut dan serangga, perwujutannya gelap kehitam-hitaman.
Satu hal yang aneh adalah karena mereka berpandangan sebagai kera dan
berjalan dengan kaki telanjang. Jika ayah atau ibu mereka meninggal,
mereka dibawa ke hutan belantara dan kemudian dibakar. Salah satu
kerajaan mereka dinamakan “Pou-Kia-Loung”. Disamping itu ada orang yang menyebutnya Hie Kiang atau Choun-Ta. Menurut “Prof. D.G. Schlerel” dalam bukunya berjudul “Iets Omt ent De Betrikkinoen Der Chinezen Met Java, voornDe Komst Der Europennen Aldo“ termuat dalam majalah Tijdsct-ift voor Indische Taal Land-En Volkenkumdell, jilid XX Tahun 1873, yang dimaksud kerajaan “Pou-Kia-Loung“ dalam sumber sejarah dinasti “Ming” tersebut adalah Pekalongan.
Tetapi masih ada beberapa versi lain tentang terciptanya nama kota Pekalongan, yaitu sebagai berikut:
LEGOK KALONG
Dalam lakon Ketoprak yang pernah dipagelarkan di Pekalongan oleh
Siswo Budoyo, lakonnya diambil dari hasil karya R.Soedibyo
Soerjohadilogo, diantaranya mengisahkan peristiwa keberhasilan Joko Bau
putra Kyai Cempaluk memenggal kepala JP Coon (VOC).
Kepala tersebut dibawanya pulang untuk disowankan kepada Sultan Agung
dan dalam perjalanan direbut oleh Mandurarejo. Karena tidak mempunyai
cukup bukti maka Joko Bau bertapa kembali di daerah selatan Pekalongan. Dari kata Legok Kalong inilah kemudian timbul nama Pekalongan di desa “Legok Kalong” dari nama desa itu kemudian menjadi Pekalongan.
KALINGGA
Konon sebagian masyarakat Pekalongan beranggapan bahwa letak Kerajaan Kalingga adalah di desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Dari Kalingga inilah kemudian dihubungkan dengan kata Kaling, Keling, Kalang dan akhirnya menjadi Kalong. Akhirnya dari kata Kalong tersebut kemudian timbulah nama Pekalongan, karena Kerajaan Kalingga itu dikenal pada abad VI-VII, maka timbulnya nama Pekalongan menurut versi ini seputar abad VI dan VII.
Kalong ( Kelelawar)
Pekalongan berasal dari kata Kalong (Kelelawar), karena di Pekalongan dulunya
banyak binatang kelelawar/kalong, terutama di Kesesi tempat kelahiran
Joko Bau putra Kyai Cempaluk. Dalam versi yang sama tetapi berbeda
tempat, dikisahkan bahwa di sepanjang kali Pekalongan (Kergon),
di tempat tersebut dulunya ada pohon slumpring dan banyak kelelawarnya
begitu juga di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan terdapat
banyak pohon randu gembyang dan banyak dihuni kelelawarnya dan
dijadikan pedoman bahwa daerah yang banyak dihuni kelelawar adalah
daerah pantai. Dari banyaknya kelelawar (kalong) tersebut kemudian berubah menjadi nama Pekalongan. Nama pekalongan tersebut dikenal seputar abad ke XVII (jamannya Bau Rekso).
KALANG
Asal kata Pekalongan berasal dari kalingga dan berubah menjadi kata keling kemudian berubah lagi menjadi kalang. Kata kalang
tersebut ada beberapa pengertian yaitu hilir mudik, nama sejenis ijan
laut Cakalang, gelanggang, sekelompok, atau diasingkan ke/di selong.
Didalam salah satu cerita rakyat daerah Pekalongan ada hutan/semaksemak yang banyak setan/siluman dan tempat tersebut sangat ditakuti oleh
siapapun, kemudian tempat tersebut dipergunakan untuk pembuangan
sebagai hukuman bagi orang–orang yang membangkang atau membahayakan pada
kerajaan Mataram. Dari kata kalang tersebut kemudian menjadi Pekalongan.
Dari berbagai macam asal usul nama kota ini terbukti bahwa Kota Pekalongan telah lama berdiri sehingga tidak ada keraguan lagi untuk mengenalnya lebih dalam. Sejalan dengan rebrandingnya sebagai The World’s City of Batik maka Kota Pekalongan siap menyambut kedatangan Anda untuk menikmati “atmosfir” batik di kota ini.

Langganan:
Komentar (Atom)








